Tangaran, Sambas – Suasana hangat dan penuh semangat menyelimuti Pantai Tiram Arung Parak, tempat dilangsungkannya rembuk bulanan Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) se-Kabupaten Sambas. Tak sekadar diskusi biasa, momen ini justru menjadi titik tolak perubahan besar bagi sektor pertanian dan nelayan di Kecamatan Tangaran.
Camat Tangaran, H. Suhut Firmansyah, S.Sos., M.Si., yang hadir langsung dalam kegiatan tersebut, tak segan memberikan apresiasi tinggi atas kiprah dan kontribusi nyata para anggota KTNA. Dalam pandangannya, KTNA bukan hanya mitra pemerintah, melainkan pionir yang mampu membawa lompatan kemajuan nyata di lapangan.
“Teman-teman KTNA telah membuktikan semangat dan kepedulian mereka. Rembuk ini bukan sekadar rutinitas, tetapi momentum emas melahirkan gagasan segar demi kemajuan pertanian dan nelayan di Sambas,” tegas Suhut penuh semangat.
Tak berhenti di apresiasi, Camat Suhut juga melemparkan tantangan sekaligus harapan besar: KTNA harus menjadi agen perubahan! Ia mendorong agar organisasi ini tampil sebagai motor penggerak, terutama dalam mendorong inovasi, penerapan teknologi pertanian, serta peningkatan produktivitas dan kesejahteraan petani-nelayan.
“Kita butuh KTNA yang progresif, yang tak hanya bergerak di tataran ide, tapi juga implementatif. Bersama pemerintah kecamatan dan desa, KTNA bisa memperkuat ketahanan pangan serta mendongkrak kualitas SDM pertanian kita,” ujarnya.
Dalam visi besar Sambas Berkah Berkemajuan, KTNA diposisikan sebagai jembatan strategis antara masyarakat tani-nelayan dan pemerintah. Camat Suhut menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor agar pembangunan pertanian berjalan efektif dan menyentuh langsung kebutuhan masyarakat.
“KTNA adalah suara petani dan nelayan. Mereka punya kekuatan untuk menyampaikan aspirasi dan menjadi solusi atas berbagai tantangan pertanian. Inilah saatnya KTNA naik kelas, menjadi mitra strategis dan bukan sekadar pelengkap,” tambahnya.
Di penghujung acara, semangat kolaboratif kian menggelora. Suhut mengajak seluruh stakeholder – dari pemerintah desa hingga kelompok wanita tani – untuk bahu-membahu bersama KTNA, mendorong terwujudnya pertanian Tangaran yang maju, modern, dan berkelanjutan.
“Kita ingin lihat hasil nyata. Produksi naik, pendapatan petani meningkat, dan kehidupan nelayan makin sejahtera. Dan saya percaya, KTNA bisa jadi lokomotif perubahan itu!” tutup Suhut, optimistis.